Sementara ini, banyak orang, tidak terkecuali kaum
muslimin, yang mengartikan “kerusakan di muka bumi” hanya sebatas pada
hal-hal yang nampak (lahir) seperti; bencana alam, kebakaran,
pengrusakan hutan, tersebarnya penyakit menular dan lain sebagainya.
Mereka
melupakan kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata, padahal ini adalah
kerusakan yang paling besar dan fatal akibatnya, bahkan kerusakan
inilah yang menjadi sebab terjadinya kerusakan-kerusakan “lahir” di
atas.
HAKIKAT “KERUSAKAN DI MUKA BUMI”
Allah berfirman:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS Ar Ruum:41).
Dalam
ayat yang mulia ini Allah menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi
di muka bumi, dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah
perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia.
Imam Abul 'Aliyah ar-Riyaahi berkata:
"Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi maka (berarti)
dia telah berbuat kerusakan padanya, karena perbaikan di muka bumi dan
di langit (hanyalah dicapai) dengan ketaatan (kepada Allah)" . [Tafsir
Ibnu Katsir: 3/576]
Imam asy-Syaukaani ketika
menafsirkan ayat di atas berkata: “(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan
bahwa perbuatan syirk dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai)
kerusakan di alam semesta” . [Fathul Qadir: 5/475]
Dalam ayat lain Allah berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan
apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu)" (QS. asy-Syuura:30).
Syaikh
Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata:
“Allah memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, (baik)
pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka
sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan-perbuatan buruk (maksiat)
yang pernah mereka lakukan…” [Taisiirul Kariimir Rahmaan: 759]
Tidak
terkecuali dalam hal ini, musibah dan “kerusakan” yang terjadi dalam
rumah tangga, seperti tidak rukunnya hubungan antara suami dan istri,
serta seringnya terjadi pertengkaran di antara mereka, penyebab utama
semua ini adalah perbuatan maksiat yang dilakukan oleh sang suami atau
istri.
Inilah makna yang diisyaratkan dalam
ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan: "Sungguh (ketika) aku
bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan
maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…" [ad-Daa-u wad Dawaa: 68]
Oleh
sebab itu, Allah menamakan orang-orang munafik sebagai “orang-orang
yang berbuat kerusakan di muka bumi”, karena buruknya perbuatan maksiat
yang mereka lakukan dalam menentang Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman
(artinya):
“Dan bila dikatakan
kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi," mereka
menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan".
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan,
tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12).
Syaikh
Abdurrahman as-Sa’di berkata: “Melakukan maksiat di muka bumi
(dinamakan) “berbuat kerusakan” karena perbuatan tersebut menyebabkan
rusaknya apa yang ada di muka bumi, seperti biji-bijian, buah-buahan,
pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, karena terkena penyakit yang disebabkan
perbuatan maksiat. Demikian juga karena melakukan perbaikan di muka bumi
adalah dengan memakmurkan bumi dengan ketaatan dan keimanan kepada
Allah, yang untuk tujuan inilah Allah menciptakan manusia dan
menempatkan mereka di bumi, serta melimpahkan rezeki kepada mereka, agar
mereka menjadikan (nikmat tersebut) sebagai penolong mereka untuk
melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah, maka jika mereka
melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah
(maksiat) berarti mereka telah mengusahakan (sesuatu yang menyebabkan)
kerusakan dan kehancuran di muka bumi” [Taisiirul Kariimir Rahmaan: 42]
Maka kematian para pelaku maksiat merupakan salah satu sebab berkurangnya kerusakan di muka bumi, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam:
وَالْعَبْدُ الْفَـاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِـلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
“...(Kematian)
seorang hamba yang fajir (banyak berbuat maksiat) akan menjadikan
manusia, negeri, pepohonan dan binatang terlepas (terselamatkan dari
kerusakan karena perbuatan maksiatnya)” [Bukhari: 6512, Muslim: 2245]
SEBAB UTAMA KERUSAKAN DI MUKA BUMI
Imam Qatadah dan
as-Suddi berkata: “Kerusakan (yang sesungguhnya) adalah perbuatan
syirik, dan inilah kerusakan yang paling besar” [Tafsir al-Qurthubi:
4/40]
Demikian juga perbuatan bid’ah dan
semua seruan dakwah yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah, pada
hakekatnya merupakan sebab terbesar terjadinya kerusakan di muka bumi.
Karena petunjuk dan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah
satu-satunya aturan untuk memakmurkan dan mensejahterakan alam semesta,
sehingga semua seruan agama yang bertentangan dengan petunjuk beliau
adalah sebab utama terjadinya kerusakan di muka bumi.
Oleh karena itu, imam Abu Bakar Ibnu 'Ayyasy Al Kuufi ketika ditanya tentang makna firman Allah:
وَلا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…" [QS. al-A’raaf: 56].
إنَّ اللهَ بَعَثَ محَمَّداً إلَى أَهْلِ الأَرْضِ وَهُـمْ فِيْ فَسَادٍ فَأَصْلَحَهُمُ اللهُ بِمُحَمَّدٍ r ، فَمَنْ دَعَا إلَى خِلاَفِ مَا جَاءَ بِهِ محَمَّدٌ r فَهُوَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ فِيْ الأَرْضِ
Beliau berkata: "Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad
kepada umat manusia, (sewaktu) mereka dalam keadaan rusak, maka Allah
memperbaiki (keadaan) mereka dengan (petunjuk yang dibawa) Nabi
Muhammad, sehingga barangsiapa yang mengajak (manusia) kepada selain
petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam maka dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi" .
JALAN KELUAR SATU-SATUNYA
Karena
musibah dan kerusakan di muka bumi disebabkan oleh dosa-dosa manusia,
maka pintu pertama untuk segera lepas adalah taubat yang nasuuh. Inilah
makna yang diisyaratkan dalam firman Allah:
لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Supaya
Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS Ar Ruum:41).
Artinya:
agar mereka kembali (bertobat) dari perbuatan-perbuatan (maksiat) yang
berdampak timbulnya kerusakan besar (dalam kehidupan mereka), sehingga
(dengan tobat tersebut) akan baik dan sejahteralah semua keadaan mereka” .
Dalam hal ini, sahabat yang mulia, Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu
pernah berucap dalam doanya: “Ya Allah, sesungguhnya tidak akan terjadi
suatu malapetaka kecuali dengan (sebab) perbuatan dosa, dan tidak akan
hilang malapetaka tersebut kecuali dengan taubat (yang
sungguh-sungguh)…” .
Maka kembali kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam
dengan mempelajari, memahami dan mengamalkannya adalah solusi untuk
menghilangkan kerusakan di muka bumi dalam segala bentuknya, bahkan
menggantikan kerusakan tersebut dengan kebaikan, kemaslahatan dan
kesejahteraan. Karena memang agama Islam disyariatkan oleh Allah yang maha sempurna ilmu dan hikmah-Nya , untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup manusia. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu" (QS al-Anfaal:24).
Dalam ayat lain Allah berfirman:
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ
بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ
بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون
“Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya” (QS al-A’raaf:96).
Artinya:
Kalau saja mereka beriman dalam hati mereka dengan iman yang benar dan
dibuktikan dengan amalan shaleh, serta merealisasikan ketakwaan kepada
Allah lahir dan batin dengan meninggalkan semua
larangan-Nya, maka niscaya Allah akan membukakan bagi mereka
(pintu-pintu) keberkahan di langit dan bumi, dengan menurunkan hujan
deras (yang bermanfaat), dan menumbuhkan tanam-tanaman untuk kehidupan
mereka dan hewan-hewan (ternak) mereka, (mereka hidup) dalam kebahagiaan
dan rezki yang berlimpah, tanpa ada kepayahan, keletihan maupun
penderitaan, akan tetapi mereka tidak beriman dan bertakwa maka Allah
menyiksa mereka karena perbuatan (maksiat) mereka” [Taisiirul Kariimir
Rahmaan: 298] .
Oleh karena itu, “orang-orang
yang mengusahakan perbaikan di muka bumi” yang sebenarnya adalah
orang-orang yang menyeru manusia kembali kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan mengajarkan dan menyebarkan ilmu tentang tauhid dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam kepada manusia.
Mereka
inilah orang-orang yang menyebabkan kemaslahatan dan kesejahteraan alam
semesta beserta isinya, tidak terkecuali hewan-hewan di daratan maupun
lautan ikut merasakan kebaikan tersebut, sehingga mereka senantiasa
mendoakan kebaikan dari Allah untuk orang-orang tersebut, sebagai
ungkapan rasa terima kasih kepada mereka. [Miftaahu Daaris Sa’aadah:
1/64]
Rasulullah bersabda (artinya):
“Sesungguhnya orang yang berilmu (dan mengajarkan ilmunya kepada
manusia) akan selalu dimohonkan pengampunan dosa baginya oleh semua
makhluk yang ada di langit (para malaikat) dan di bumi, sampai-sampai
(termasuk) ikan-ikan yang ada di lautan…” [at-Tirmidzi: 2682, Ibnu
Majah: 223, dishahihkan oleh Imam al-Albani]
Sekaligus ini menunjukkan bahwa kematian orang-orang berilmu yang selalu mengajak manusia kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam
merupakan pertanda akan munculnya malapetaka dan kerusakan besar dalam
kehidupan manusia. Karena dengan wafatnya mereka, akan berkurang
penyebaran ilmu tauhid dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di tengah-tengah manusia, yang ini merupakan sebab timbulnya kerusakan dan bencana dalam kehidupan.
Dalam hal ini, Imam al-Hasan al-Bashri pernah berkata:
مَوْتُ الْعَالِمِ ثُلْمَةٌ فِى الإِسْلاَمِ لاَ يَسُدُّهَا شَىْءٌ مَا اخْتَلَفَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ
“Kematian
orang yang berilmu merupakan kebocoran (kerusakan) dalam Islam yang
tidak bisa ditambal (diperbaiki) oleh apapun selama siang dan malam
masih terus berganti” [Riwayat ad-Daarimi dalam as-Sunan: 324].
Kita semua tentunya tahu dan mengerti,
bahwa manusia sebenarnya dapat hidup secara harmonis dengan alam,
seandainya manusia memperlakukan alam dengan baik, dan tidak
memanfaatkan sumber daya alam yang dikandung tidak berlebihan.
Usaha-usaha untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan mempertahankan
kwalitas lingkungan hidup yang seimbang dalam segala bentuk belumlah
mencapai hasil yang memuaskan. Kualitas lingkungan dan kehidupan manusia
terus menurun akibat ulahnya sendiri.
Salah satu penyebab ulah manusia yang
tidak peduli itu, adalah ketidaktahuannya mengenai peran keanekaragaman
hayati dan perlunya pelestarian lingkungan hidup untuk menopang
kehidupan manusia. Melihat ayat diatas,kitasemakin menyadari bahwa iklim
sudah tidak bisa diprediksi lagi. Dulu kita bisa memprediksi datangya
musim hujan sekitar bulan September-Februari dan selebihnya musim
kemarau,tapi sekarang benar2 sulit untuk diprediksi.
Kini manusia telah menerima akibat dari
ulahnya sendiri, karena telah mengabaikan sebuah konsep keseimbangan,
demi untuk meningkatkan kesejahteraannya, manusia melakukan pemanfaatan
yang berlebihan. Kerusakan dan pencemaran lingkungan semakin meningkat
seiring dengan terus berkembangnya peradaban manusia dan pemenuhan
kebutuhan hidup. Belum lagi wabah penyakit yang menyerang, mulai dari
flu, pusing, diare, penyakit kulit Dll.
Dan saat ini bencana alam atau lebih
pasnya lagi adalah bencana lingkungan, telah nampak. Bencana ini dipicu
dari kerusakan lingkungan yang ada di sekitar kita. Hulu sungai mulai
tidak dapat menampung lagi curah hujan yang tinggi, karena tidak ada
pohon lagi yang dapat menahan air yang tumpah dari langit. Sementara
masyarakat perkotaan, setiap tahunnya akan tertimpa dampaknya seperti
banjir dan kekurangan air bersih. Lebih tragis lagi,banjir bandang yang
dikirim dari daerah hulu, akan sangat menyengsarakan masyarakat di
perkotaan yang tinggal di pesisir.
Mungkinkah tanda-tanda kehancuran sudah
ditampakkan oleh Sang Khalik, agar kita semua menyadari ? Yang jadi
pertanyaan mungkinkah ini semua akibat dari ulah manusia atau Allah yang
memang ingin menguji kesabaran umat manusia dimuka bumi ini ?,Yang
jelas mengutip dari ayat alquran di atas, memang semua ini akibat dari
ulah manusia & akan kembali ke manusia pula.
Isu global warming, pembalakan hutan yang
‘membabi-buta’ demi keuntungan pribadi semata, volume kendaraan yang
tak terkendalikan, badai tsunami, bahkan explorasi sumber daya alam yang
tidak memperhatikan untuk beribadah kepada Allah, manusia juga
diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, manusia
memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam
semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk lingkungan. Selain
kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia.
Allah berfirman dalam QS Al A’raf : 56-58
, Yang artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi
sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak
akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang
meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma
Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami
halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah
itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam
buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah
mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik,
tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur,
tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi
tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.”
Allah SWT melarang umat manusia berbuat
kerusakan dimuka bumi karena Allah telah menjadikan manusia sebagai
khalifahnya. Larangan berbuat kerusakan ini mencakup semua bidang,
termasuk dalam hal muamalah, seperti mengganggu penghidupan dan
sumber-sumber penghidupan orang la ada sebagian kaum yang berbuat
kerusakan di muka bumi. Mereka tidak hanya merusak sesuatu yang berupa
materi atau benda, melainkan juga berupa sikap, perbuatan tercela atau
maksiat serta perbuatan jahiliyah lainnya. Akan tetapi, untuk menutupi
keburukan tersebut sering kali mereka menganggap diri mereka sebagai
kaum yang melakukan perbaikan di muka bumi, padahal justru merekalah
yang berbuat kerusakan di muka bumiin.
Allah menegasakan bahwa salah satu
karunia besar yang dilimpahkan kepada hamba-Nya ialah Dia menggerakkan
angin sebagai tanda kedatangan rahmat-Nya. Angin yang membawa awan
tebal, dihalau ke negeri yang kering dan telah rusak tanamannya karena
tidak ada air, sumur yang menjadi kering karena tidak ada hujan, dan
kepada penduduk yang menderita lapar dan haus. Lalu Dia menurunkan hujan
yang lebat di negeri itu sehingga negeri yang hampir mati tersebut
menjadi subur kembali dan penuh berisi air.
Dengan demikian, Dia telah menghidupkan
penduduk tersebut dengan penuh kecukupan dan hasil tanaman-tanaman yang
berlimpah ruah. Allah memberikan pertanyaan pada kita manusia.
“Apakah sama orang yang beriman dan
beramal saleh dengan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan juga
apakah sama antara orang yang bertakwa dengan orang yang berbuat maksiat
? “.
Allah SWT menjelaskan bahwa diantara
kebijakan Allah ialah tidak akan menganggap sama para hamba-Nya yang
melakukan kebaikan dengan orang-orang yang terjerumus di lembah
kenistaan. Allah SWT menjelaskan bahwa tidak patutlah bagi zat-Nya
dengan segala keagungan-Nya, menganggap sama antara hamba-hamba-Nya yang
beriman dan melakukan kebaikan dengan orang-orang yang mengingkari
keesaan-Nya lagi memperturutkan hawa nafsu.
Allah menciptakan langit dan bumi dengan
sebenar-benarnya hanya untuk kepentingan manusia. Manusia diciptakan-Nya
untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, sehingga wajib untuk menjaga
apa yang telah dikaruniakan Allah SWT,tetapi manusia telah mengingkari
keesaan Allah, kebenaran wahyu,dan terjadinya hari kebangkitan serta
hari pembalasan. Oleh karena itu, mereka jauh dari rahmat Allah sebagai
akibat dari melanggar larangan-larangan-Nya.Mereka tidak meyakini bahwa
mereka akan dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya dan akan dihimpun
dipadang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga
mereka berani zalim terhadap lingkungannya.
Sadarlah wahai para penghuni
bumi,,berhentilah merusak apa yang telah Allah ciptakan dengan
sebaik-baiknya untuk kita ,Khalifaah di bumi. “Dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan
berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan
dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang
yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa
berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin
itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus,
lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan
sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami
membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil
pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin
Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh
merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi
orang-orang yang bersyukur.” (QS Al A’raf : 56-58) .
Sudah seharusnya musibah demi musibah
yang terjadi dapat menjadi kebaikan,bagi orang-orang yang mengaku
dirinya beriman pada ALLAH. Dengan demikian keburukan itu tidak
disandarkan kepada Allah, akan tetapi disandarkan pada perbuatan
mahluk(manusia). Ini bisa diartikan suatu keburukan dari satu sisi dan
merupakan kebaikan di sisi yang lain. Kalau dilihat bencananya yang
terjadi, maka itu suatu keburukan, namun jika dilihat dari akibatnya,
maka itu sesuatu yang harus mendatangkan kebaikan bagi kita
manusia,supaya kita kembali meng-ibadahi ALLAH dengan
sebaik-baiknya,serta memurnikan ketaatan pada-NYA.
sebagaimana akhir ayat diatas(QSar-ruum
Ayat : 41). “Agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan
mereka, agar mereka kembali”<>.
Wallahu’alam bishawab.
lihat tafsirannya Surat Al - baqarah Tafsir Ayat 8 - 13 Disini

0 comments:
Posting Komentar