728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 08 November 2012

    Memahami Hakekat Kerusakan di Bumi Akibat Tangan Manusia


    Sementara ini, banyak orang, tidak terkecuali kaum muslimin, yang mengartikan “kerusakan di muka bumi” hanya sebatas pada hal-hal yang nampak (lahir) seperti; bencana alam, kebakaran, pengrusakan hutan, tersebarnya penyakit menular dan lain sebagainya.
    Mereka melupakan kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata, padahal ini adalah kerusakan yang paling besar dan fatal akibatnya, bahkan kerusakan inilah yang menjadi sebab terjadinya kerusakan-kerusakan “lahir” di atas.

    HAKIKAT “KERUSAKAN DI MUKA BUMI”

    Allah berfirman:
    ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
    “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)  manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS Ar Ruum:41).
    Dalam ayat yang mulia ini Allah menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi, dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia.
    Imam Abul 'Aliyah ar-Riyaahi  berkata: "Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi maka (berarti) dia telah berbuat kerusakan padanya, karena perbaikan di muka bumi dan di langit (hanyalah dicapai) dengan ketaatan (kepada Allah)" . [Tafsir Ibnu Katsir: 3/576]
    Imam asy-Syaukaani ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirk dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta” . [Fathul Qadir: 5/475]
    Dalam ayat lain Allah berfirman:     
    وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
    “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)" (QS. asy-Syuura:30).
    Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Allah memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, (baik) pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan-perbuatan buruk (maksiat) yang pernah mereka lakukan…” [Taisiirul Kariimir Rahmaan: 759]

    Tidak terkecuali dalam hal ini, musibah dan “kerusakan” yang terjadi dalam rumah tangga, seperti tidak rukunnya hubungan antara suami dan istri, serta seringnya terjadi pertengkaran di antara mereka, penyebab utama semua ini adalah perbuatan maksiat yang dilakukan oleh sang suami atau istri. 

    Inilah makna yang diisyaratkan dalam ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan: "Sungguh (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…"  [ad-Daa-u wad Dawaa: 68]

    Oleh sebab itu, Allah menamakan orang-orang munafik sebagai “orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi”, karena buruknya perbuatan maksiat yang mereka lakukan dalam menentang Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman (artinya):
    “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi," mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12).

    Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “Melakukan maksiat di muka bumi (dinamakan) “berbuat kerusakan” karena perbuatan tersebut menyebabkan rusaknya apa yang ada di muka bumi, seperti biji-bijian, buah-buahan, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, karena terkena penyakit yang disebabkan perbuatan maksiat. Demikian juga karena melakukan perbaikan di muka bumi adalah dengan memakmurkan bumi dengan ketaatan dan keimanan kepada Allah, yang untuk tujuan inilah Allah menciptakan manusia dan menempatkan mereka di bumi, serta melimpahkan rezeki kepada mereka, agar mereka menjadikan (nikmat tersebut) sebagai penolong mereka untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah, maka jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah (maksiat) berarti mereka telah mengusahakan (sesuatu yang menyebabkan) kerusakan dan kehancuran di muka bumi”  [Taisiirul Kariimir Rahmaan: 42]
    Maka kematian para pelaku maksiat merupakan salah satu sebab berkurangnya kerusakan di muka bumi, sebagaimana sabda Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wassalam:
    وَالْعَبْدُ الْفَـاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِـلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
    “...(Kematian) seorang hamba yang fajir (banyak berbuat maksiat) akan menjadikan manusia, negeri, pepohonan dan binatang terlepas (terselamatkan dari kerusakan karena perbuatan maksiatnya)” [Bukhari: 6512, Muslim: 2245]

    SEBAB UTAMA KERUSAKAN DI MUKA BUMI

    Imam Qatadah  dan as-Suddi berkata: “Kerusakan (yang sesungguhnya) adalah perbuatan syirik, dan inilah kerusakan yang paling besar” [Tafsir al-Qurthubi: 4/40]

    Demikian juga perbuatan bid’ah  dan semua seruan dakwah yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah, pada hakekatnya merupakan sebab terbesar terjadinya kerusakan di muka bumi. Karena petunjuk dan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah satu-satunya aturan untuk memakmurkan dan mensejahterakan alam semesta, sehingga semua seruan agama yang bertentangan dengan petunjuk beliau adalah sebab utama terjadinya kerusakan di muka bumi.
    Oleh karena itu, imam Abu Bakar Ibnu 'Ayyasy Al Kuufi  ketika ditanya tentang makna firman Allah:

    وَلا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا
    “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…" [QS. al-A’raaf: 56].
     إنَّ اللهَ بَعَثَ محَمَّداً إلَى أَهْلِ الأَرْضِ وَهُـمْ فِيْ فَسَادٍ فَأَصْلَحَهُمُ اللهُ بِمُحَمَّدٍ r ، فَمَنْ دَعَا إلَى خِلاَفِ مَا جَاءَ بِهِ محَمَّدٌ r فَهُوَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ فِيْ الأَرْضِ

    Beliau berkata: "Sesungguhnya Allah mengutus Nabi  Muhammad kepada umat manusia, (sewaktu) mereka dalam keadaan rusak, maka Allah memperbaiki (keadaan) mereka dengan (petunjuk yang dibawa) Nabi Muhammad, sehingga barangsiapa yang mengajak (manusia) kepada selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam maka dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi" .

    JALAN KELUAR SATU-SATUNYA

    Karena musibah dan kerusakan di muka bumi disebabkan oleh dosa-dosa manusia, maka pintu pertama untuk segera lepas adalah taubat yang nasuuh. Inilah makna yang diisyaratkan dalam firman Allah:
    لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

    “Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS Ar Ruum:41).
    Artinya: agar mereka kembali (bertobat) dari perbuatan-perbuatan (maksiat) yang berdampak timbulnya kerusakan besar (dalam kehidupan mereka), sehingga (dengan tobat tersebut) akan baik dan sejahteralah semua keadaan mereka”  .

    Dalam hal ini, sahabat yang mulia, Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu pernah berucap dalam doanya: “Ya Allah, sesungguhnya tidak akan terjadi suatu malapetaka kecuali dengan (sebab) perbuatan dosa, dan tidak akan hilang malapetaka tersebut kecuali dengan taubat (yang sungguh-sungguh)…” .

    Maka kembali kepada petunjuk Allah  dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan mempelajari, memahami dan mengamalkannya adalah solusi untuk menghilangkan kerusakan di muka bumi dalam segala bentuknya, bahkan menggantikan kerusakan tersebut dengan kebaikan, kemaslahatan dan kesejahteraan. Karena memang agama Islam disyariatkan oleh Allah  yang maha sempurna ilmu dan hikmah-Nya , untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup manusia. Allah  berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
    “Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)  hidup bagimu" (QS al-Anfaal:24).

    Dalam ayat lain Allah  berfirman:
    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون

    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS al-A’raaf:96).

    Artinya: Kalau saja mereka beriman dalam hati mereka dengan iman yang benar dan dibuktikan dengan amalan shaleh, serta merealisasikan ketakwaan kepada Allah  lahir dan batin dengan meninggalkan semua larangan-Nya, maka niscaya Allah akan membukakan bagi mereka (pintu-pintu) keberkahan di langit dan bumi, dengan menurunkan hujan deras (yang bermanfaat), dan menumbuhkan tanam-tanaman untuk kehidupan mereka dan hewan-hewan (ternak) mereka, (mereka hidup) dalam kebahagiaan dan rezki yang berlimpah, tanpa ada kepayahan, keletihan maupun penderitaan, akan tetapi mereka tidak beriman dan bertakwa maka Allah menyiksa mereka karena perbuatan (maksiat) mereka” [Taisiirul Kariimir Rahmaan: 298] .
    Oleh karena itu, “orang-orang yang mengusahakan perbaikan di muka bumi” yang sebenarnya adalah orang-orang yang menyeru manusia kembali kepada petunjuk Allah  dan Rasul-Nya, dengan mengajarkan dan menyebarkan ilmu tentang tauhid dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam kepada manusia.
    Mereka inilah orang-orang yang menyebabkan kemaslahatan dan kesejahteraan alam semesta beserta isinya, tidak terkecuali hewan-hewan di daratan maupun lautan ikut merasakan kebaikan tersebut, sehingga mereka senantiasa mendoakan kebaikan dari Allah untuk orang-orang tersebut, sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada mereka. [Miftaahu Daaris Sa’aadah: 1/64]

    Rasulullah bersabda (artinya): “Sesungguhnya orang yang berilmu (dan mengajarkan ilmunya kepada manusia) akan selalu dimohonkan pengampunan dosa baginya oleh semua makhluk yang ada di langit (para malaikat) dan di bumi, sampai-sampai (termasuk) ikan-ikan yang ada di lautan…” [at-Tirmidzi: 2682, Ibnu Majah: 223, dishahihkan oleh Imam al-Albani]

    Sekaligus ini menunjukkan bahwa kematian orang-orang berilmu yang selalu mengajak manusia kepada petunjuk Allah  dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam merupakan pertanda akan munculnya malapetaka dan kerusakan besar dalam kehidupan manusia. Karena dengan wafatnya mereka, akan berkurang penyebaran ilmu tauhid dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di tengah-tengah manusia, yang ini merupakan sebab timbulnya kerusakan dan bencana dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, Imam al-Hasan al-Bashri  pernah berkata:
    مَوْتُ الْعَالِمِ ثُلْمَةٌ فِى الإِسْلاَمِ لاَ يَسُدُّهَا شَىْءٌ مَا اخْتَلَفَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ

    “Kematian orang yang berilmu merupakan kebocoran (kerusakan) dalam Islam yang tidak bisa ditambal (diperbaiki) oleh apapun selama siang dan malam masih terus berganti”  [Riwayat ad-Daarimi dalam as-Sunan: 324].

     

    Kita semua tentunya tahu dan mengerti, bahwa manusia sebenarnya dapat hidup secara harmonis dengan alam, seandainya manusia memperlakukan alam dengan baik, dan tidak memanfaatkan sumber daya alam yang dikandung tidak berlebihan. Usaha-usaha untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan mempertahankan kwalitas lingkungan hidup yang seimbang dalam segala bentuk belumlah mencapai hasil yang memuaskan. Kualitas lingkungan dan kehidupan manusia terus menurun akibat ulahnya sendiri.

    Salah satu penyebab ulah manusia yang tidak peduli itu, adalah ketidaktahuannya mengenai peran keanekaragaman hayati dan perlunya pelestarian lingkungan hidup untuk menopang kehidupan manusia. Melihat ayat diatas,kitasemakin menyadari bahwa iklim sudah tidak bisa diprediksi lagi. Dulu kita bisa memprediksi datangya musim hujan sekitar bulan September-Februari dan selebihnya musim kemarau,tapi sekarang benar2 sulit untuk diprediksi.

    Kini manusia telah menerima akibat dari ulahnya sendiri, karena telah mengabaikan sebuah konsep keseimbangan, demi untuk meningkatkan kesejahteraannya, manusia melakukan pemanfaatan yang berlebihan. Kerusakan dan pencemaran lingkungan semakin meningkat seiring dengan terus berkembangnya peradaban manusia dan pemenuhan kebutuhan hidup. Belum lagi wabah penyakit yang menyerang, mulai dari flu, pusing, diare, penyakit kulit Dll.

    Dan saat ini bencana alam atau lebih pasnya lagi adalah bencana lingkungan, telah nampak. Bencana ini dipicu dari kerusakan lingkungan yang ada di sekitar kita. Hulu sungai mulai tidak dapat menampung lagi curah hujan yang tinggi, karena tidak ada pohon lagi yang dapat menahan air yang tumpah dari langit. Sementara masyarakat perkotaan, setiap tahunnya akan tertimpa dampaknya seperti banjir dan kekurangan air bersih. Lebih tragis lagi,banjir bandang yang dikirim dari daerah hulu, akan sangat menyengsarakan masyarakat di perkotaan yang tinggal di pesisir.

    Mungkinkah tanda-tanda kehancuran sudah ditampakkan oleh Sang Khalik, agar kita semua menyadari ? Yang jadi pertanyaan mungkinkah ini semua akibat dari ulah manusia atau Allah yang memang ingin menguji kesabaran umat manusia dimuka bumi ini ?,Yang jelas mengutip dari ayat alquran di atas, memang semua ini akibat dari ulah manusia & akan kembali ke manusia pula.

    Isu global warming, pembalakan hutan yang ‘membabi-buta’ demi keuntungan pribadi semata, volume kendaraan yang tak terkendalikan, badai tsunami, bahkan explorasi sumber daya alam yang tidak memperhatikan untuk beribadah kepada Allah, manusia juga diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk lingkungan. Selain kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia.

    Allah berfirman dalam QS Al A’raf : 56-58 , Yang artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.”

    Allah SWT melarang umat manusia berbuat kerusakan dimuka bumi karena Allah telah menjadikan manusia sebagai khalifahnya. Larangan berbuat kerusakan ini mencakup semua bidang, termasuk dalam hal muamalah, seperti mengganggu penghidupan dan sumber-sumber penghidupan orang la ada sebagian kaum yang berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka tidak hanya merusak sesuatu yang berupa materi atau benda, melainkan juga berupa sikap, perbuatan tercela atau maksiat serta perbuatan jahiliyah lainnya. Akan tetapi, untuk menutupi keburukan tersebut sering kali mereka menganggap diri mereka sebagai kaum yang melakukan perbaikan di muka bumi, padahal justru merekalah yang berbuat kerusakan di muka bumiin.

    Allah menegasakan bahwa salah satu karunia besar yang dilimpahkan kepada hamba-Nya ialah Dia menggerakkan angin sebagai tanda kedatangan rahmat-Nya. Angin yang membawa awan tebal, dihalau ke negeri yang kering dan telah rusak tanamannya karena tidak ada air, sumur yang menjadi kering karena tidak ada hujan, dan kepada penduduk yang menderita lapar dan haus. Lalu Dia menurunkan hujan yang lebat di negeri itu sehingga negeri yang hampir mati tersebut menjadi subur kembali dan penuh berisi air.

    Dengan demikian, Dia telah menghidupkan penduduk tersebut dengan penuh kecukupan dan hasil tanaman-tanaman yang berlimpah ruah. Allah memberikan pertanyaan pada kita manusia.
    “Apakah sama orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan juga apakah sama antara orang yang bertakwa dengan orang yang berbuat maksiat ? “.

    Allah SWT menjelaskan bahwa diantara kebijakan Allah ialah tidak akan menganggap sama para hamba-Nya yang melakukan kebaikan dengan orang-orang yang terjerumus di lembah kenistaan. Allah SWT menjelaskan bahwa tidak patutlah bagi zat-Nya dengan segala keagungan-Nya, menganggap sama antara hamba-hamba-Nya yang beriman dan melakukan kebaikan dengan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya lagi memperturutkan hawa nafsu.

    Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya hanya untuk kepentingan manusia. Manusia diciptakan-Nya untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, sehingga wajib untuk menjaga apa yang telah dikaruniakan Allah SWT,tetapi manusia telah mengingkari keesaan Allah, kebenaran wahyu,dan terjadinya hari kebangkitan serta hari pembalasan. Oleh karena itu, mereka jauh dari rahmat Allah sebagai akibat dari melanggar larangan-larangan-Nya.Mereka tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya dan akan dihimpun dipadang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga mereka berani zalim terhadap lingkungannya.

    Sadarlah wahai para penghuni bumi,,berhentilah merusak apa yang telah Allah ciptakan dengan sebaik-baiknya untuk kita ,Khalifaah di bumi. “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al A’raf : 56-58) .

    Sudah seharusnya musibah demi musibah yang terjadi dapat menjadi kebaikan,bagi orang-orang yang mengaku dirinya beriman pada ALLAH. Dengan demikian keburukan itu tidak disandarkan kepada Allah, akan tetapi disandarkan pada perbuatan mahluk(manusia). Ini bisa diartikan suatu keburukan dari satu sisi dan merupakan kebaikan di sisi yang lain. Kalau dilihat bencananya yang terjadi, maka itu suatu keburukan, namun jika dilihat dari akibatnya, maka itu sesuatu yang harus mendatangkan kebaikan bagi kita manusia,supaya kita kembali meng-ibadahi ALLAH dengan sebaik-baiknya,serta memurnikan ketaatan pada-NYA.
    sebagaimana akhir ayat diatas(QSar-ruum Ayat : 41). “Agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali”<>.
    Wallahu’alam bishawab.

    lihat tafsirannya Surat Al - baqarah Tafsir Ayat 8 - 13  Disini
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Memahami Hakekat Kerusakan di Bumi Akibat Tangan Manusia Rating: 5 Reviewed By: Syeikh As - sabangi

    Follow My Blog

    Scroll to Top